Showing posts with label MAKNA. Show all posts
Showing posts with label MAKNA. Show all posts

Tuesday, 24 May 2016

MACAM-MACAM KATA MANUSIA DALAM ALQUR'AN





  Kata “Manusia” dalam al-Qur’an
              Kata “Manusia” disebutkan dalam banyak kata bahasa Arab seperti insan (الإنسان), basar (البشر), an-nas (الناس), dan bani adam(بنى أدم) . Semua kata bahasa Arab tersebut memiliki arti yang sama yaitu “Manusia” namun dengan ranah spesifikasi yang berbeda.
a.    Insan (الإنسان)
              Kata Insan (الإنسان) diartikan sebagai manusia namun dengan spesifikasi ke aspek psikologi, jadi Insan (الإنسان) berarti manusia secara unsur psikologi atau psikis atau pikiran mereka.
              Dalam al-Qur’an, kata Insan (الإنسان) salah satunya terdapat dalam surat al-‘Asr ayat 2.
إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ (العَسر: ۲)
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (al-‘Asr: 2)

b.    Basar (البشر)
              Kata Basar (البشر) diartikan sebagai manusia namun dengan spesifikasi ke aspek fisiknya atau wujud asli manusia yang bisa terlihat.
              Dalam al-Qur’an, kata Basar (البشر) salah satunya terdapat dalam surat Asy-Syu’ara ayat 154.
مَا أَنْتَ إِلَّا البَشَرٌ مِثْلُنَا فَأْتِ بِاۤيَةٍ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِيْنِ (الشعر: ۱۵٤)
“Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami, maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar.” (Asy-Syu’ara: 154)
c.    An-nas (الناس)
              Kata An-nas (الناس) diartikan sebagai manusia dengan spesifikasi ke aspek sosial, jadi an-nas (الناس) diartikan sebagai manusia dari segi hubungan nya dengan makhluk lain atau sosialnya.
              Dalam al-Qur’an, kata An-nas (الناس) dipakai sebagai salah satu nama surat yaitu surat an-nas (الناس) dan salah satu ayatnya berbunyi:
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَاسِ (الناس: ۱)
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan manusia.” (An-nas: 1)

d.   Bani adam (بنى أدم)
              Kata Bani adam (بنى أدم) diartikan sebagai manusia dengan spesifikasi ke aspek historis atau sejarahnya, artinya bahwa secara historis semua manusia adalah keturunan nabi Adam.
              Dalam al-Qur’an, kata Bani adam (بنى أدم) terdapat dalam salah satu ayat di surat al-A’raaf yaitu di ayat 26.
يبَنِي ادَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْاتِكُمْ وَرِشًا..... (الاعراف: ۲٦)

“Hai bani Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan, ....( al-A’raaf: 26).

MAKNA JILBAB DALAM AL QUR'AN



  Makna Jilbab dalam al-Qur’an
              Jilbab berasal dari kata kerja jalab yang berarti menutupkan sesuatu di atas sesuatu yang lain sehingga tidak dapat dilihat. Dalam masyarakat Islam selanjutnya, jilbab diartikan sebagai pakaian yang menutupi tubuh seseorang. Bukan hanya kulit tubuhnya tertutup, melainkan juga lekuk dan bentuk tubuhnya tidak kelihatan.
              Arti kata jilbab ketika Al Quran diturunkan adalah kain yang menutup dari atas sampai bawah, dan tutup kepala. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman tentang jilbab hanya di satu tempat, yaitu surat Al-Ahzab ayat 59. Karena itu, selanjutnya ia populer dikenal dengan ayat jilbab. Ayat yang dimaksud ialah:

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (الاحزب: ۵٩)
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).

              Dari ayat al-Qur’an diatas dapat disimpulkan bahwa makna jilbab dalam pandangan Al-Qur’an ialah baju kurung yang bermakna baju yang menutupi seluruh tubuh. Ia juga sama dengan al-khimar atau tudung kepala yang bisa dimaknai dengan apa yang dipakai di atas baju seperti selimut dan kain yang menutupi seluruh tubuh wanita.

MAKNA SETAN MENURUT AL QUR'AN




   Makna “Syaitan” Menurut al-Qur’an
              Kata “setan” (الشيطان, شيطن) diambil dari akar kata “syathana”, dan “syâthin”  mempunyai makna “yang buruk”. Dan “syaithân” adalah suatu wujud pembangkang dan penentang, baik dari golongan manusia, jin, atau makhluk-makhluk yang lain. “Syaithân” juga mempunyai makna lain, yaitu ruh jahat yang jauh dari hak dan kebenaran. Pada hakikatnya, semua arti ini kembali kepada satu arti yang sama.
              Setan adalah sebuah nama umum, sementara “iblis” adalah nama khusus. Dengan kata lain, “setan” dapat diatributkan kepada setiap wujud yang berbahaya, menyesatkan, pembangkang, arogan, dan penentang, baik dalam bentuk manusia maupun selain manusia. Dan “iblis” merupakan nama dari setan yang senantiasa menciptakan tipuan daya kepada manusia, dan sekarang ia pun selalu menunggu kesempatan dengan seluruh bala tentaranya untuk menyerang benteng pertahanan manusia.
              Dari penggunaan kata “syaithân” di dalam Al-Qur’an dapat dipahami bahwa setan adalah sebuah wujud pengganggu dan berbahaya, wujud yang telah terusir dari jalan yang benar dan senantiasa sibuk mengganggu yang lainnya, wujud yang selalu memunculkan perpecahan dan kerusakan. Dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’idah ayat 91 dijelaskan sebagai berikut,
إِنَّمَا يُرِدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمْ العَدَاوَةَ وَالبَغْضَاءَ ..... (المائده: ٩۱)
 “Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara Kamu ....” (QS. Al-Ma’idah: 91)
              Dengan memperhatikan bahwa kalimat “yurîdu” merupakan fi’il mudhâri’ (kata kerja masa datang) dan menunjukkan kontinuitas sebuah pekerjaan, maka kalimat di atas menunjukkan bahwa kehendak ini merupakan kehendak yang “senantiasa” yang dimiliki oleh setan.
              Dan di sisi lain, di dalam Al-Qur’an kita melihat bahwa “setan” tidak berarti sebuah makhluk yang khusus, tetapi “setan” ditujukan pula kepada manusia-manusia yang jahat dan merusak. Al-Qur’an berfirman dalam surat Al-An’am ayat 112,
وَكَذّ لِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ الإِنْسِ وَالجِنِّ... (الأنعم: ۱۱۲)
“Dan demikianlah, Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan [dari jenis] manusia dan [dari jenis] jin..... ,” (QS. Al-An‘am: 112)
              Selain dari apa yang telah dijelaskan di atas, terkadang “setan” digunakan untuk arti kuman dan bakteri. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. dalam sebuah hadis berkata, “Janganlah kamu meminum air dari bagian gelas yang telah pecah atau pada bagian pegangannya, karena setan duduk di pegangan gelas dan permukaan bagian yang pecah itu.”
              Demikian juga dalam sebuah hadis Imam Ash-Shadiq a.s. berkata, “Janganlah meminum air dari pegangan tangan gelas dan bagian belangan yang pecah, karena tempat tersebut merupakan tempat minumnya para setan.”
              Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kamu memanjangkan kumis, karena setan menganggapnya sebagai tempat yang aman untuk tempat tinggalnya, dan ia akan bersembunyi di sana.” Dengan demikian, jelaslah bahwa salah satu makna “setan” adalah kuman yang membawa pengaruh negatif dan berbahaya.

              Jadi “setan/syaitan” mempunyai berbagai makna, yang salah satu bentuk nyatanya adalah iblis dan jin serta keturunannya. Bentuk lain setan adalah manusia-manusia yang merusak dan menyesatkan, dan bentuk lainnya lagi adalah kuman dan bakteri yang berbahaya.